Minggu, 17 September 2017

Esai Cerpen Robohnya Surau Kami



Di dalam cerita pendek robohnya surau kami terdapat berbagai macam nilai-nilai kehidupan jika kita dapat mencermatinya. Sekilas dongeng ini hanya gurauan yang tak memiliki kebenaran dalam alur atau latar yang diceritakan pengarang. Namun menurut saya, cerita pendek ini adalah pengalaman pribadi dari sang pengarang tersebut. Dengan membuat beberapa tokoh sebagai pendukung untuk mencapai keselarasan cerita,terlihat jelas bahwa di dalam cerita yang pengarang buat tersirat tentang kegundahan dalam dirinya terhadap perilaku masyarakat di kampung halamannya ataupun suatu lingkungan yang pengarang amati dalam lingkup agama,sosial dan sastra. Sejatinya ini adalah fenomena yang hadir pada masyarakat tradisional khususnya pada masa ini.
            Robohnya surau kami menceritakan tentang kehidupan seorang kakek yang hidup seorang diri. Kakek tersebut tinggal di sebuah surau tua dan menjadi garin atau penjaga surau . Beliau menghabiskan sisa waktu hidupnya untuk beribadah dan membersihkan surau. Para warga di kampung tersebut juga mengenal beliau sebagai pengasah pisau yang handal, dan dari sedekah atau imbalan mengasahkan pisau itulah beliau dapat bertahan hidup disana.
            Suatu ketika ada seseorang bernama Ajo Sidi datang untuk bercerita kepada sang kakek. Ajo sidi sendiri disini dikenal sebagai tukang ejek dan pembual. Banyak warga yang sudah termakan omongannya dan menjadi peleo atau buah bibir di kampung tersebut. Bualan ajo sidi kali ini menceritakan tentang seseorang yang bernama Haji Soleh. Semasa hidupnya Haji Soleh ini sangatlah taat Bergama dan hampir tidak ada jeda dalam langkahnya untuk mengucap asma Allah. Ketaatan ibadahnya selama ia hidup membuat rasa percaya diri Haji Soleh tinggi,ia yakin bahwa ia masuk surga sebagai imbalan atas kedisiplinannya beribadah di dunia dahulu. Namun siapa sangka, dirinya malah dimasukan ke neraka oleh Allah SWT. Haji Soleh pun bertanya-tanya tentang kesalahan apa yang ia buat semasa hidup dan membuat dia sekarang terjerumus ke neraka. Seingatnya dulu ketika masih hidup dia tidak pernah sekali pun berbuat jahat,dia tidak pernah terbujuk oleh rayuan setan,dan dia mengisi detiknya dengan asma-asma Allah. Tapi mengapa sekarang ketika hari pembalasan tiba, dirinya malah dijebloskan ke dalam api neraka? Pertanyaan itu yang selalu mengulang dan mengulang dalam benaknya, sehingga ia memutuskan untuk memprotes Allah tentang keadilan dan kebenaran janji-janjinya. setelah beberapa saat, bertemulah Haji Soleh dan Tuhan, namun pernyataan yang dilontarkan Tuhan terhadap pertanyaan yang diungkapkan Haji Soleh sangat mengejutkan dan sekaligus menyadarkan akan kesalahannya semasa hidup. Tuhan menjawab bahwa hidup yang diberikannya adalah untuk keserasian dan keseimbangan, bukan berat pada satu sisi dan sisi yang lain di lupakan.
            Setelah cerita dari Ajo sidi itu selesai, perasaan kesal dan menyesal bercampur pada hati sang kakek pada saat itu. Kakek merasa bahwa cerita tersebut mungkin di ilhami oleh dirinya. Kakek hanya bisa diam dengan rautnya yang makin murung, ia tak mengerti apa yang harus dilakukan untuk menutup kesalahannya ketika usianya sudah larut di makan kesunyian. Dan kakek memutuskan untuk membalas segala sesalnya dengan membunuh diri.
            Jika kita telaah lebih jauh,cerita ini syarat akan makna dan nilai moral di dalamnya. kehidupan adalah suatu karunia yang diberikan Tuhan kepada kita makhluknya. Bukan semata-mata memuja dan mengucap asmanya menjadi suatu yang mutlak sebagai kewajiban manusia di dunia. Cerita ini mengajarkan tentang alam,dunia dan yang ilahi.
            Alam adalah suatu rangkaian yang diberikan kepada kita sebagai sesuatu yang semestinya dijaga dan dimanfaatkan untuk hal-hal positif. Hakikatnya Tuhan memberi alam untuk menunjang manusia dalam bertahan hidup. Dibuatnya alam sebagai teman dalam kesendirian manusia dan keheningan yang riuh akan gemercik,dan dedaunan yang membuat hati dan pikiran manusia tenang dari segala perkara yang ada di dunia. Alam itu sendiri hidup dalam pribadinya yang ramah. Robohnya surau kami menjelaskan alam sebagai suatu bentuk titipan Tuhan yang semestinya dimanfaatkan dan dijaga secara bijak untuk anak cucu kita dalam meneruskan hidup kelak.
            Dalam cerita pendek ini, dunia itu di ibaratkan keserasian antara manusia dengan yang lain, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan. Dunia mencakup segala relasi yang mutlak ada di dalamnya. Manusia satu sama lain diciptakan untuk saling mengingat dan diingat , dan untuk menjadi petanda dan penanda bagi saudaranya dalam setiap langkah yang mereka jalani dalam hidupnya.
            Dan terakhir ilahi. Tuhan memfanakan kehidupan kita agar kita ingat padanya,pada dia yang membuat segala riwayat kita,agar kita bersyukur bahwa setiap nafas yang kita hembus itu pemberiannya.
            Namun disamping itu semua, pengarang membangkitkan isu bagaimana cara melihat unsur kealiman seseorang. Ironi sekali jika kita menengok kisah Haji soleh . Di dalam cerita pendek ini di titik beratkan dosa Haji Soleh yaitu mengabaikan  tanggung jawab kepada sesamanya. Pada masa yang sama , kealiman seseorang juga boleh berunsur egoistis. Dalam arti lain, kesalehan secara luar tidak membawa makna ketika ia hanya untuk mendapatkan balasan atau pahala yang dijanjikan Tuhan dan keselamatan diri sendiri di akhirat kelak, tanpa memikirkan hak-hak orang lain yang ada di sekitarnya. Keikhlasan dalam mengerjakan perintah Tuhan yang ditanggapi pengarang secara luas adalah dijadikannya kesadaran paling dalam untuk mengukur sejauh mana agama itu hidup subur di dalam sanubari individu tersebut.
            Cerita robohnya surau kami ini tidak luntur di telan jaman,karena persoalan di dalamnya abadi dalam kehidupan manusia itu sendiri. Persoalan yang sebenarnya kita hadapi sekarang ini  adalah corak kegamaan seperti apa yang mau kita ambil,antara corak keagamaan individualistik dan egois yang hanya mementingkan keselamatan diri sendiri saja tanpa menghiraukan lingkungannya atau corak keagamaan yang taat pada pesan dasar agama,,dan peka akan perihal kemanusian dan bijak dalam menata lingkungannya.
            Kesimpulannya  adalah “kehidupan itu keseimbangan,keseimbangan antara kebahagiaan dan penderitaan,antara kegembiraan dan kedukaan,antara harapan dan kenyataan. Dan justru dalam keseimbangan itulah kebahagian dan penderitaan lenyap,harapan dan kenyataan menghilang”  kata-kata itu saya kutip berdasarkan buku yang pernah saya baca,menurut saya duniawi dan akhirat seperti langit dan bumi,entah siapa yang bisa menyeimbangkan segala perbuatannya. Kenyataan yang terjadi, banyak diantara kita saling timpang dalam melakukannya,berat pada satu titik dan titik lain di lupakan. Robohnya surau kami mengajarkan sesuatu bentuk  kesadaran akan beragama dan berkehidupan,cerita ini menguak segala macam bentuk kekurangan manusia dalam segi hal alam,dunia,dan yang ilahi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar